#TIPSDANTRIK
MENGENAL SHIRATAKI
Seminggu lalu sempat-sempatin mampir ke apotik untuk cek gula darah. Maklum, beberapa hari kok rasanya ngantuk melulu, padahal serasa sedang tidak masuk angin.
Sampai di apotik, gak pakai lama langsung ketahuan Gula Darah Puasa (GDP) 315. Yang di sebelah sana pakai ngamuk, gak rela. jadi, fixed, kudu atur makan lagi. Nggak boleh kemproh. Mosok tukang masak makanan keto kok GDP tinggi. Gak lucu. Balik kucing, makan shirataki lagi.
Apa sih shirataki? Shirataki ini adalah hasil olahan dari pati atau sagu umbi iles-iles atau porang. Kita mengenalnya dengan nama beken: KONNYAKU.
Bentuk shirataki pun sekarang lebih beragam: mie, bihun, block, dan tsubu (mirip nasi). Jadi, tergantung kita merencanakan masak apa, tinggal pilih bentuk mana yang akan kita gunakan.
Ada dua jenis shirataki: shirataki basah dan shirataki kering. Untuk yang basah, tersedia empat bentuk di atas. Sedangkan shirataki kering sedikitnya ada dalam bentuk beras dan mie. Untuk diketahui, shirataki basah lebih rendah karbohidratnya. Kenapa, karena pada shirataki kering pembuatannya masih menambahkan kanji alias tapioka supaya nanti pada saat direndam air saat akan dimasak, bentuknya bisa bagus. Ini info kelas satu ya, karena aku mendapatkannya langsung dari teknisi pabrik.
Banyak yang mengira kalau shirataki yang beredar di Indonesia ini adalah hasil impor. Salah besar. Karena pabrik shirataki itu lokasinya cuma di Pasuruan, Jawa Timur.
Kembali ke laptop.
Penyimpanan shirataki sering disalahpahami. Jangan pernah menyimpan shirataki di kulkas apalagi freezer. Bahkan untuk shirataki basah. Cukup letakkan di suhu ruang, jangan terpapar sinar matahari langsung. Air yang digunakan pada shirataki basah adalah air berPH tinggi. Tahan satu tahun sejak diproduksi. Selalu cek tanggal kadaluarsa yang tertera di kemasan. Penyimpanan di kulkas dan freezer akan berakibat pada tekstur shirataki yang mengeras. Kalau sudah keras, mau dimasak selama apapun tidak akan mengempukkannya lagi.
Mengolah shirataki mudah sekali. Tak ada treatment khusus. Aku lebih banyak menggunakan shirataki basah karena benar-benar rendah karbo, dibandingkan dengan shirataki kering ataupun beras shirataki. Jadi cukup aku tiriskan, bila perlu diperas. Buatlah bumbu sebagaimana layaknya masakan lain, dengan cara pengolahan yang sama. Catatan: Shirataki tidak perlu diolah lama. Sebentar saja. Karena selama apapun dimasak, jangan harap bumbu meresap.
SARAN KUAT: potong-potong shirataki sebelum dimasak. Apalagi kalau kita akan memberikannya ke anak-anak. Misal mie dan bihun, potong-potong dulu agar pendek bentuknya supaya mudah ditelan. Kekenyalan shirataki ini menjadikan bahan ini sudah putus. Kalau tidak, nanti pas ditelan bisa kloloden (dhuh, bahasa Indonesianya apa ya?). Pokoknya bisa nyangkut saat ditelan lah.
Selamat mencoba.
0 Comments